Rabu, 30 Desember 2015

Arloji Rusak

Di penghujung hari akankah tetap sama, semua cerita yang tiada pernah kita ungkapkan, dimana kau dan aku sama-sama membisu, membiarkan diri mematung sampai lumut subur menyelimuti bagian tubuh ini.

Mengapa semua terasa sama di kala aku mulai untuk menaruh rasa semua tiada berbeda, engkau yang disana entah akan bagaimana ku tak pernah tau tapi kita pernah ada, kau dan aku berdua bersembunyi dalam memori yang berbeda tetapi memiliki rasa yang sama, sebuah alunan melodi dengan ritme yang senada.

Aku tak tahu mengapa begini jadinya, ku coba mengatakannya pada angin supaya masuk celah jendela kamarmu, ia selalu kembali, kembali dengan ketiadaan, ku katakan dalam selembar kertas, ku hanyutkan dalam aliran sungai, tapi kau berada di hulu, suratku tak pernah sampai karena berakhir di muara, ku titipkan salam pada burung gereja ku mau ia hinggapi kediamanmu sekedar berkicau mesra, lebih mesra dari kicauanku dalam kesepian.

Merpati membawa rasa yang sama sampai akhir hayatnya, gajah mati kehilangan pasangannya, buaya, sebuah kata untuk para pengembara yang sesungguhnya hanya menetap di satu jiwa, selamanya, aku, aku tak tahu apa aku bisa, aku tak berharap untuk menjadi mereka, cintaku sama sampai batas waktu yang tak terkira, arloji rusak ini akan menjadi penanda dimana ku matikan waktu untuk sementara, sampai kau ada memberiku tenaga untuk mendetakkannya.

Aku bukan mereka yang pernah datang bertamu ke teras hatimu, ku tak pernah bermaksud menggantikan siapa-siapa, aku adalah aku yang mencintaimu dengan kekonsistenan nada, tiada ku beranjak bahkan ketika tak jelas kau suka nada yang mana, aku tak merubah nadaku, biarlah sumbang katanya, aku tak ragu karena aku, aku menjadi aku supaya kau menjadi kau, aku dan kau menjadi kita, dengan alunan nada yang berbeda tapi seirama.

Kemudian Dia yang menciptakan kita dengan perbedaan, dari situ ku mulai untuk memahami bahwa aku kurang, dan kau hadir sebagai pelengkap yang akan menjadikan kita satu. Tiada ku sampaikan resah ini karena sepi ku rasa, kau tahu aku, biarlah dulu tenggelam, tiada nelangsa karna ku rasa kita memiliki pandangan yang sama akan cinta.

Senin, 14 Desember 2015

Jika

Jika ingin pergi tanpa di suruh pun pasti akan pergi.
Jika ingin bertahan tanpa di minta pun pasti akan bertahan.

Tidak ada yang rumit kecuali permainan perasaan.

Jumat, 21 Agustus 2015

Tanpa tujuan

Ketika ku angankan menjadi jarum
Ku harap ku temui segulung benang
Ku tahu kita kan menyatu
Ku tahu kau kan padu

Dasar kita hanyalah selembar kain
Helaian yang diriku dan dirimu tak pernah menyangsikannya
Hanyalah media yg tidak bersuara
Tapi ia menyatukan kita

Nikmat terasa saat kita menyatu
Senyumku merekah melihatmu berbentuk
Resah terasa ketika ku salah menyusun polamu
Ku tak mau merusak kesempurnaanmu

Perlu sebuah kesabaran untuk menantimu,
Tidak selalu berhasil tapi selalu ada media baru,
Tentu dengan benang yang baru,
pola baru, warna baru,
Selalu ku tenang karena kita masih dalam tujuan yang sama,
Menjadi sebuah karya

Tapi kini ku tak lagi menenun
Jarumku patah
Benangku hilang arah
Entah harus bagaimana tapi ku nikmati ketiadaan pola

Kamis, 11 Juni 2015

Dia

Diamku sejenak
Rintik hujan ini seolah berbicara
Ya, ia membawaku pada satu masa
membimbing angan untuk kembali ke tempat persinggahan
Sunyi
Ku pejamkan mata
Jiwaku tak terlepas raga pun melakukan hal yang sama
Nada, nada jatuhnya yang kurasakan
Begitu mendalam membuaiku dalam ketenangan
Hujan datang dengan ragam ceritanya
Dia badai, dia rintik, dia deras
Rintik yang ku suka
Entah mengapa tapi ku nikmati berjalan di bawahnya
Badai kadang mengkhawatirkanku
Deras selalu meluluhkan
Tapi semua telah berjalan pada jalurnya
Pada realita yang telah di gariskan atasnya
Hujan telah memiliki porsi sendiri yang akan membuatnya selalu terkenang

Rabu, 10 Juni 2015

Kita

Jiwa ini akan terselimuti emosi
Entah mengapa aku tak kuasa membendungnya
Kita memang tak pernah searah
Tapi bukannya karna berlawanan lalu kita bersua
Sejalan maka kita seiring
Berlawanan maka kita berhadapan
Jika mata telah bertemu mata
Maka mungkin hati juga akan bertemu hati.
Dan tercipta,
Kita

Selasa, 09 Juni 2015

Semangat

Seorang terpelajar tidak akan pernah jatuh hanya dengan beberapa rintangan. Jikapun tersandung, pahamilah. Terlalu lama mendongak membuat kita lupa bahwa dengan sesekali menekur perjalanan akan lebih aman.

Jumat, 05 Juni 2015

Waktu

Waktu akan memberikan kejutan. Tidaak hanya pada mereka yang bergegas tetapi juga pada yang berleha-leha. Kejutan tidak selamanya menyenangkan tapi ia bisa di prediksi.

Kamis, 04 Juni 2015

Aku dan Laut

Sejauh apapun kau pergi ke tengah laut, suatu saat ombak akan membawamu menepi. Tidak pun kau hendaki, gelombang itu akan selalu ada. Hembusan angin yang menciptakannya, begitupun gelombang seismik.

Lautan tak pernah kejam dia selalu tenang. Jika kemudian kau lihat ombak yang besar, itu adalah campur tangan angin. Bukankah kau pun menghendakinya? Mencarinya? Banyak darimu memanfaatkannya untuk kesenangan, berselancar seolah menaklukkan yang terbesar.

Hari lusa telah aku terima surat darimu. Helai kertas yang kau masukkan ke dalam sebuah botol. Ku baca surat itu, sudah ku balas. Melalui laut ku lemparkan dan berharap gelombang menepikannya padamu. Entah di pantai yang mana.

Sering ku coba untuk langsung menemuimu melintasi lautan biru. Sesering itu juga badai menghalangiku. Frekuensi ombak makin liar karnanya. Aku menunggu, hingga ia kembali reda.

Masih dalam benak ini. Jika aku tidak bisa menjadi pulaumu, biarkanlah aku menjadi laut yang akan senantiasa tenang sambil menepi perlahan bersama dengan gelombang ombak.

Sabtu, 30 Mei 2015

Abu-abu

Seringkali tak ku dapati makna sinyal yang kau pancarkan itu. Kau beri aku yang kuat kemudian kau lemahkan. Memang nyaman itu punya tingkatan yang berbeda. Tapi yakinlah ku benci ketika semua terasa abu-abu.

Minggu, 17 Mei 2015

I thougt i was fallen

Never change for someone but change only for yourself, for your goodness and also for your life. It much better because i may not be always by your side but i try hard to prove you that i want the best for us.
I love you,

Minggu, 10 Mei 2015

Nyaman

Dunia dimana Tuan lebih memilih untuk menyandarkan kepala pada sebuah bantalan busa padahal dengan kayu mimpi itupun akan tetap sama. Tiada jaminan, nyaman saja.

Jumat, 08 Mei 2015

Kau

Mata yang membuatku mengingat dimana kau duduk pertama di hadapanku-mengerling dan kau terasa, ada.

Tatapanmu itu tak pernah setajam pisau dapurku. Ku lihat sisimu tumpul sebagian tapi tak pernah ku hiraukan. Bukankah kita memiliki batu asahan.

Kerlingmu merefleksikan sesuatu yang kau batasi sebagai rahasia. Ku tahu kau akrab dengan air mata, ku tahu anganmu kerap kembali ke satu masa. Matamu men-dikte-ku itu.

Aku tak pernah berusaha mengisi ruang kosongmu. Kenapa harus ketika kau pun tak pernah melihat kesana. Tidak ada yang pernah bisa menggantikan sebuah kehilangan.

Aku, bukan pengganti tapi ku biarkan diriku menjadi buku baru, kosong, yang siap kau tulis dengan semua ceritamu. Sehingga kau hidup dalam, Aku.

Minggu, 19 April 2015

Kopi tuan

Kopi. Tuan boleh suka kopi padahal tuan pun tahu dia punya sisi pahit, tapi tuan mampu ingkari. Tuan menyukai kopi karena kopi hanyalah kopi dan tidak menjanjikan yang lain. Jika hanya mencari kafein, teh juga punya kafein. Karna kopi tetaplah kopi yang selalu mengingatkan tuan bahwa dari setiap kenikmatan terdapat kepahitan yang berjalan beriringan. Kopi sajikan realita dalam setiap tegukkannya, bahkan saat peracikan, setiap adukkan maupun juga kebul asapnya. Sesederhana kopi yang bisa membuat semua mata menyala tuan sajikan dalam penawaran yang tak seberapa. Mau kenikmatan? Ini kopi, tuan selalu bilang seperti itu.
Kopi, sebuah  cita rasa yang tuan tak bisa dustai. Sekarang, mari kita nikmati. Kopi.

Rabu, 15 April 2015

Harap

Hidup mengajarkan kita untuk mengambil sikap, paling tidak memilih ataupun di pilih. Dalam hal itu sama sekali tak ada ruang untuk keraguan.

Diperlukan pemimpin yang dapat memberi pemahaman, tidak hanya untuk memerintah melainkan mengayomi.

Diperlukan kebijakan untuk membuat pilihan, tidak hanya asal pilih dan kemudian terserah bagaimana takdir membawanya.

Sekali dalam satu masa kehidupan kita harus realistis dengan apa yang akan kita tuju, tentu usaha juga. Keraguan akan selalu ada untuk menjadi sandungan tapi tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Tentunya akan selalu ada hasil dari setiap usaha. Tak di ragukan. Meski memang hasil pun tak menjamin bahagia.

Atas semua pengharapan terselip do'a. Sisanya adalah keberuntungan dan usaha.

Cukup hargai semua, kehidupan memberikan pelajaran yang tidak dapat di rasakan setiap manusia.  Setiap usaha begitupun kita memiliki pengharapan yang sama, do'a yang senada, keraguan yang selalu ada.

Usaha semampu-mampunya tapi jangan sekali-kali mengiba. Karna jawaban dari semuanya tidak selalu, ya, dan kita cukup melapangkan dada.

Selasa, 14 April 2015

Jiwa

Jika kemudian timbul rasa akankah ia mencabut semua kesepian, akankah ia mengobati semua luka.

Bukankah ini cuma persoalan ada atau tidak ada, saling melengkapi atau di lengkapi, genap menggenapi. Lalu apa istimewanya?

Kadang kita hanya menakuti ketiadaan padahal ada pun tak menjamin apa-apa. Subjektivitas menguasai hati dan hasilnya hanya luapan emosi.

Ragu pun seringkali melintasi karna melihat bagaimana reaksi. Stagnansi itu berarti mati dan ingatlah jantung pun memperlihatkan fluktuasi makanya ia hidup.

Tenang, memang permulaan sedikit sulit dan yakinlah belum pernah ada keberhasilan tanpa kehadiran halang rintangan.

Sabtu, 11 April 2015

Dalam Kata

Setiap satu yang hilang akan selalu tergantikan dengan satu yang baru, bukan  tentang bagaimana mengisi ruang kosong, tapi bagaimana menempatkan diri sehingga kemudian penuh dan di tutup tanpa celah.

Bukannya permulaan selalu indah, disaat sama-sama kosong dan membagi ruang, semua sekat terasa runtuh dan selalu ada upaya menerangi ketika lampunya perlahan pudur.

Apakah selalu benar jika kemudian ruang itu nyaman kemudian rasa jenuh akan menjelang, bukan soal warna ruang tersebut yang membosankan tapi akan selalu ada tempat yang lebih menggoda untuk di masuki.

Apakah segitu saja cinta, ketika terbebat  serta merta minta di ulur, ini soal nada. Nada tersatu menjadi sebuah simfoni. Awal memang selalu menyenangkan tapi bertahan adalah akhir yang menyejukkan.

Kamis, 02 April 2015

Me

Aku menyukainya tapi takkan ku tukar masa ini dengannya.
Bukannya aku tak memperjuangkannya. Aku hanya memilih mempersiapkan masa depanku untuknya daripada menukar masa ini untuk lelah terhadapnya.

Pohon hijau

Aku pohon hijau biasa
Desah akar selalu menguatkanku
Tapi tidak pada rantingku
Kadang angin menghembusnya patah

Aku kokoh saat terik
Senantiasa melindungimu dari sengat matahari
Kau singgah selalu
Dan aku tetap hasilkan nyamanmu

Ku naungi kau dalam rimbunku
Kau nikmati oksigenku
Tapi kau selalu pergi saat bulan menyapa
Kau tau karbonku akan menyakitimu

Terlalu

Kadang kita harus menyadari bahwa harus ada yang di perbaiki dari diri masing-masing. Terlalu obsesi, terlalu bergairah, terlalu aktif pun tidaklah selalu baik.
Karna yang terlalu juga akan menghasilkan terlalu.
Tahan diri agar tidak terlalu. Rasakan alunannya dan berjalanlah sesuai ritmenya.
Tapi tidak terlalu

Sabtu, 21 Maret 2015

Tut Wuri Handayani

Saya tidak berpikir untuk mendapatkan apa yang Tuan peroleh di hari sukses Tuan. Karna yang saya pahami tentang persahabatan adalah Tut Wuri Handayani terlepas dari penilaian Tuan terhadap saya.

Sastra

Ku sastrakan diri

Antipati

Entah sampai kapan akan ku tanyakan pada diriku. Dia takkan pernah menjawab ketika ku sedang berantipati.

Di butakan ambisi

Memang tak habis pikirku melihatnya. Sampai saat ini kita masih di jerat ketidakterimaan atas perbedaan. Coba kau lihat, itu, mereka semua saudaramu. Kalian memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing tapi kalian pilih untuk saling menyaingi daripada saling mengisi. Bahkan untuk apa yang di kebulkan di dapur hari ini. Kalian, di butakan ambisi.

Emosi saya

Pandainya saya meluapkan emosi adalah dari setiap ketukan ini. Tidak, saya tidak tunjukan kepada kalian pun saya tak kan menyerang kalian. Saya ingin tapi saya anggap kalian keluarga.

Minggu, 15 Maret 2015

Kita

Berjalan bukankah akan letih juga?
Berlari pun juga akan menguras tenaga
Bergerak bukankah akan pegal juga?

Lalu mengapa kita melakukan semuanya?

Karna itu yang bisa mendekatkan kita

Sabtu, 14 Maret 2015

Hujan

Rintiknya menghapuskan jejak yang tertinggal. Melapisi malam, kadang menyejukkan dan bisa lebih mendinginkan.

Jumat, 13 Maret 2015

Kisah

Aku hanya menuliskan bahagia
Supaya kau juga bisa baca aku bahagia
Aku tidak berada dalam bukumu
Makanya kau tersenyum membacanya

Aku berkata menyuarakan bahagia
Supaya kau juga bisa dengar aku bahagia
Aku tidak berada dalam pendengaranmu
Makanya kau tersenyum mendengarnya

Aku semerbak bunga bahagia
Supaya kau tenang berada di antaranya
Aku tidak berada dalam tamanmu
Makanya kau tersenyum di dalamnya

Aku menggemulaikan tangan melambai bahagia
Supaya kau juga bisa lihat aku bahagia
Aku tidak berada dalam pandanganmu
Makanya kau tersenyum melihatnya

Aku tidak bisa selain mendoa kau bahagia

Aku hidup dalam buku ku yang fana
Akan habis menguning hingga tak ada lagi yang mau membacanya

Aku hidup dalam duniaku yang fana
Akan habis termakan usia hingga aku kembali kepada-Nya

Entahlah

Kau tuliskan namamu dengan tinta-tinta becek, kau goreskan sampai terbaca sampai tak bisa ku hapuskan kecuali kubakar kertasmu itu

Fana

Jikapun bukan karna cinta, hujan takkan pernah turun menyegarkan tanah. Tanah takkan subur untuk manusia.
Manusia habis Dunia binasa

Selasa, 10 Maret 2015

Persetan

Ah, persetan. Engkau pun telah di kuasai emosi. Ingat apa yg aku bilang? Kau bodoh. Tak berpendirian. Sedikit pun kau tak mengerti posisimu. Sumbu amarahmu terlalu pendek, begitu kau alamatkan pada yg lainnya.
Persetan

This

Seseorang mengundurkan dirinya bukan karna dia menyerah terhadapmu. Lebih banyak mereka merasa lelah menunggu respon yang di harapkan tetapi ternyata tak kunjung datang.

Lirih

Kau posisi kan dirimu dalam sebuah nyanyian. Ke tempat dimana sedu dan sedan itu kau padankan. Kau biasa. Lirih suaramu tidak tergantikan begitupun nampaknya dengan isi hatimu tapi kau semakin terlupakan.

Rabu, 04 Maret 2015

I closed my love book

Kadang kita memilih untuk mempertahankan cinta yang kita rasakan dan menghiraukan cinta yg orang lain akan berikan, untuk kita. Hanya kita.

Jumat, 27 Februari 2015

Tenang

Ada yang kau harus ketahui tentang dirimu. Apakah kau menguasai emosimu ataukah emosi yang menguasaimu. Tenanglah, kau akan temukan jawabannya.

Senin, 23 Februari 2015

Cinta?

Ketika kau mencintai seseorang, kau takkan menemukan alasannya. Hal itu juga yang membuatmu bertahan untuk waktu yang tidak sebentar.

Myself? Idontthinkso

Tempatku bercerita. Kebohonganku, ceriaku, masa mudaku. Semua yang ku lalui tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Seni berjuangnya mungkin. But actually i dont think so. I dont know exactly. I just write this in the middle of the night so i could read this in another time.

Minggu, 22 Februari 2015

Syukur

Lihatlah keluar, bahkan mereka pun bahagia dengan apa yg tidak mereka miliki. Bukan tidak memiliki. Mereka banyak bersyukur.

Sabtu, 21 Februari 2015

Time showing the best part of our life

Tentu kau merasa dewasa lebih menyenangkan bukan? Nanti akan tiba masamu dan kau sadari betapa inginnya kembali ke masa kanak-kanakmu.

90an

Setidaknya banyak kisah yang akan mendeskripsikan jika mereka bertanya, bagaimana masa kecilmu?

Jumat, 20 Februari 2015

Reaksi

Seorang pun takkan pernah bisa jika mereka berpikir tidak bisa. Tubuh akan selalu merespon apa yang otak pikirkan. Jika negatif, maka di tunjukan bukti-buktinya. Begitupun ketika berpositif.

Kamis, 19 Februari 2015

Myself and yours maybe a little different

Kehidupan meminta perjuangan , terkadang pengorbanan. Bahkan akan lebih sering berkorban. Hari ini dikala banyak yang berhura-ria, ada mereka yang sedikit berbeda. Jangan salah paham dulu, bukannya mereka tidak sama, tidak. Mereka hanya mengurangi. Mereka memiliki alasan untuk memprioritaskan apa yang disebut keluarga dan mempersiapkan diri untuk kebaikan seseorang yang kelak menjadi teman hidupnya.

Manusia

Mereka cenderung melihat titik hitam di atas kertas putih. Manusia, yang kecilpun di dominankan.

Buitenzorgku

Tak berapa lama api menyala dengan rata. Ibu tetap pada posisinya menghembus angin melalui sebilah bambu. Sebenarnya sudah merata tp ibu enggan beranjak, ia menambahkan sebilah kayu lagi dan kali ini api membesar. Beberapa menit berselang air mulai bergeladak. Ibu menuangkan sebagian kedalam baskom sementara sisanya tetap di rebus. "Bagaimana keadaannya,yah?" , "aku tak mengerti, anak ini terlalu dingin" sahut ayah. Ibu menghampiri kami seraya membawa handuk kecil yang biasanya di pakai ayah berkebun. "Kemarikan" kali ini ibu terlihat sangat tenang, berbanding terbalik dengan ayah yang dilanda kepanikan. Ibu mendekapku, tangannya lincah meskipun sebelah. Kiri menggendongku dan kanan memeras serta melap seluruh tubuhku. Mungkin ini yang mereka katakan insting keibuan. Memang betul ibu sumi tak beranak tapi ketenangannya mematahkan itu semua. "Bu, mungkin dia perlu susu" kata ayah "pastinya, tp tubuhnya masih membiru. Mungkin dia masih kedinginan. Biar aku hangatkan dahulu"

                                  ****
Pagi itu kampung riuh ramai memenuhi pekarangan ayahku, Joko. Mereka beramai-ramai berkumpul hanya untuk melihatku. Aku mulai membaik, badanku merah tak lagi biru. Ayah tampak lebih tenang pagi ini, ia bercakap-cakap dengan  kawan-kawannya yg bertanya kejadian semalam. Aku tetap di dekapan ibu, kiranya sudah semalaman ibu tidak tidur dan hanya memelukku,mentransfer kehangatan tubuhnya. "Ayah, kemarilah sebentar" ibu memanggil ayah dari kerumunannya. "Ya, ada apa bu? Apa kau ingin ku buatkan teh hangat lagi?" , "tidak, apa tak ada yg kau lupakan sejak kejadian semalam?" Tanya ibu, sejenak ayah berpikir "aku sudah memberitahukan berita ini kepada kepala desa, sudah ku ajak bapak-bapak berkumpul untuk berjaga-jaga, tak lama lagi para ibu pun akan datang kesini. Rasanya tak ada yang aku lewatkan" , ibu hanya tersenyum. "Mengapa?" Ayah kebingungan. "Apakah ada yang aku lewatkan? Bekerja? Ah biar saja, toh aku hanya meliburkan diri satu hari" , "bukan itu maksudku, yah". "Anak ini, anak yang sedang ku timang ini, dia sangat cantik, lihatlah, tapi sayang kau melupakan sesuatu" mata ibu berpindah menghadapku. "Anak ini belum memiliki nama" lanjut ibu. Ayah tersenyum kecut, tidak biasanya sumi seperti ini. Dia bahkan seperti ibu yang mengandung anak ini selama sembilan bulan. Nama, benar, sebuah tak terpikirkan sama sekali di kepalanya. "Benar sayang, aku melupakan hal penting itu, aku terlalu sibuk bercerita sampai melupakan hal-hal yang kecil" , "tapi sayang, tidakkah kau mau menunggu kedatangan pak dalsim kepala desa kita? Dia lebih pantas menengahi karna, jangan kau berkecil hati, kita hanya menyelamatkan anak ini.. "maksudmu aku tak boleh membesarkannya?" Ibu menatap tajam kepada ayah "tidak,tidak, tidak begitu, anak ini haruslah kita ketahui asal usulnya. Boleh jadi dia di culik. Kau jangan berkecil hati dulu". Ibu tak menjawab, kepalanya menekur tangannya membelai wajahku, seketika air matanya menetes karna mengetahui aku tidak di lahirkan dari rahimnya. Ayah menyadari itu kemudian kami bertiga saling berpelukan.

Pertemuan dengan warga hari itu berkeputusan bahwa ayah berhak mengasuhku. Orang tuaku belum lagi di ketahui. Tidak dari desa ini. Pak Dalsim berasumsi bahwa aku sengaja di buang oleh warga dari desa lain. "Tuan Joko, sudi kiranya kau asuh anak ini. Kasihan dia. Hampir mati di santap anjing hutan. Orang tuanya biadap karna membuangnya" , "kau ku izinkan merawatnya,membesarkannya, bahkan sampai menikahkannya selayaknya kau adalah ayah kandungnya. Aku tidak berkeberatan, bagaimana saudara-saudara? Tanya Pak Dalsim pada warganya. Mereka semua sependapat. Ayah dan ibu berhak mengasuhku dengan sah di desa ini. Sekali lagi air mata ibu menetes banyak sekali. "Kita rawat anak ini bu" ayah membisikannya kemudian memeluk istrinya tercinta itu.

Rabu, 18 Februari 2015

Buitenzorg ku

Mereka memanggilku juni lenggang. Seorang anak yang terlahir tanpa mengetahui asal usul keluarganya. Aku tak tahu mengapa di namakan juni pada awalnya. Sampai akhirnya orang tua angkatku menceritakannya kepadaku. Aku di besarkan oleh seorang ibu dan ayah yang terpandang pada saat itu. Ibu bernama Sumi dan ayah bernama Joko. Mereka tidak beranak. Mereka menemukanku menangis membiru di antara pagar hidup di depan rumahnya. Waktu itu malam, pukul setengah 2 dini hari. Ibu tersintak oleh suara tangisan seorang bayi. Hatinya menciut dengan pendengarannya, ibu takut, karna waktu itu di tahun 1899 di kampung kami sedang berkembang isu anak dedemit yang meminta darah.

Ibu membangunkan ayah yang pada saat itu sedang pulas-pulasnya, sampai-sampai bantalnya yang sudah basah dengan liur pun tak terasa, tetap nyaman. "Ayah, bangunlah aku takut" ibu masih dalam posisi tertidur. Tak ada tanggapan melainkan suara dengkuran ayah yang semakin keras. "Ayah, ayah" , "hmm.... khkkk..." tetap tak berbalas. Ibu membalikkan badannya dan kini menggoncang tubuh suaminya itu. "Ayah.. bangunlah aku sangat takut, ayah, ayah, cepat". Ketika itu mata ayah setengah terbuka. "Ada apa bu? Apa kau bermimpi buruk lagi? Sudah kembalilah tidur dan panjatkan doamu" , "bukan yah, tolonglah buka matamu sebentar, apa kau tidak mendengarnya" ibu tetap menggoncangkan tubuh ayah sesekali menepuk pipinya. Ayah membuka matanya, merah, kusut, karna memang td ia tertidur sangat pulas. Mereka berpandangan "Apa yg salah denganmu bu, ku rasa kau bekerja terlalu keras hingga belakangan ini kau sering mengigau" "lekaslah tidur dan berdoa" tambahnya. "Bukan itu, aku seperti mendengar seorang bayi menangis di luar sana", "ah perasaanmu saja" , "tidak, dengarlah aku tidak mengigau".

Ayah mengangkat kepalanya dengan berat. Dia bersandar di kepala dipan, selintas tertidur dan kemudian dia terkejut. "Ya Tuhan! Anak siapa yg menangis itu" matanya melotot dan mencari arah suara. "Bu, bangunlah, ayo kita lihat sepertinya dari arah pekarangan" , "jangan yah aku takut, tidakkah kau mendengar isu bayi setan itu?" , "Omong kosong,, jangan kau dengarkan berita dukun-dukun itu, mereka sengaja membuatnya supaya kita resah dan meminta pertolongannya" , "mereka menghendaki kita meminta ajimat" , "tapi yah" , "sudahlah, jangan biarkan takut menguasaimu, kita harus lihat ke arah suara itu". Ayah bergegas bangkit dan mengintip ke pekarangan dari jendela di kamarnya. Ibu masih berbaring, bahkan menutupi kepalanya dengan selimut.

Suara tangis itu pun makin menjadi, kini di tambah dengan lolongan anjing. Ayah menoleh kesana kemari dari balik jendela tapi tak menemukan apa-apa. "Kita harus tengok keluar bu" ayah berpendapat. "Tak mungkin bagaimana kalau isu itu benar? Kita akan menjadi tumbal" sahut ibu dari balik selimut. "Baiklah, kalau kau berkeras hati begitu aku saja yg melihat keluar" , " berhati-hatilah kau jika tahu-tahu setan itu masuk ke kamar kita sementara aku diluar". Secepat kilat ibu berlari mengejar ayah yang sudah membuka pintu. "Tunggu!!! " , *braak*. Karna saking takutnya ibu menabrak pintu yang di buka ayak. Pintu itupun terbanting tertutup kembali. "Ah, kepalaku yah", "kenapa berlari begitu, lihat kepalamu sampai berdarah begini" , "aw, sakit yah.. Aku tak mau sendirian disini " mata ibu kini berkaca, antara ketakutan dan menahan sakit di kepalanya yang menabrak pintu. "Sudahlah, ini hanya sedikit tergores. Akan sembuh dalam beberapa hari. Mari kita keluar"

Ibu dan ayah dengan perlahan mendekati pintu masuk rumahnya. Suara tangisan bayi itu keras sekali, melengking seperti sedang terjepit. Selintas kemudian anjing di luar suaranya pun sangat keras, bersahut-sahutan. Ayah pada saat itu gelisah dan sangat gundah. Sebenarnya terbersit juga isu di kampung itu di benaknya. Diapun ngeri juga. Tapi perasaan kebapakannya mengalahkan itu semua. Perlahan dia putar selot kunci dan membuka pintu rumahnya. Suara bayi tadi kini tersamarkan dengan suara anjing yang terdengar kelaparan. Gonggongannya sahut menyahut. Terdengar juga suara berisik dari pagar hidup di depan pekarangan. Ayah menoleh dan mendapati segerombolan anjing tengah merusak pagar hidupnya itu. Sepertinya sangat kelaparan. "Kurang ajar anjing-anjing hutan ini. Merusak tanamanku". Ibu yg berpegangan pada bahu ayah kemudian ikut menoleh. Ayah melepaskan genggaman ibu dan mengisyaratkan untuk berdiri di balik pintu. Ibu mengangguk. Kemudian ayah mengambil 2 buah batu seketika itu juga melemparkannya ke arah gerombolan anjing tadi. "Kena!" Sahutnya. Gerombolan itu kabur ke arah hutan dengan suara meringis. Ayah melihat pagarnya patah tak beraturan dari jauh. Ia kesal. Dengan hanya mengenakan pakaian tidur ia menghampiri pagarnya itu.

Ibu menguntit di belakangnya waspada. Setengah jalan kemudian dia berlari dan kembali menghinggapi lengan ayah. Mereka berdua berjalan perlahan ke arah pagar. Suara bayi tadi sudah tidak terdengar. Ayah kemudian kembali mengambil batu untuk berjaga-jaga akan degala kemungkinan. "Bu, suaranya hilang". Mereka berputar ke arah depan pagar. "Apa itu yah?!" Ibu terkejut mendapati ada keranjang yang sebagian koyak seraya menunjuk ke arahnya. "Jadi kayu ini yg di perbutkan anjing-anjing tadi" geramnya. "Hati-hati yah barangkali ada ular di baliknya yg bersenbunyi dari anjing anjing tadi" , "tenanglah bu, aku akan memeriksanya". Keranjang itu berbalut kain sebelumnya, kini sama koyaknya dengan keranjang yang di tutupinya. Sepertinya anjing itu benar-benar kelaparan, kayu pun di kunyahnya. Keranjang itu ternyata adalah keranjang buah, cuma ini lebih besar, kiranya cukup untuk 5 kg buah apel. Ayah meraih sobekan kain tadi dan perlahan menariknya dari jauh. Tak bisa, kain itu tak berapa lama langsung tersangkut. Pasutri ini bergerak mendekati keranjang dan alangkah terkejutnya mereka mendapati seorang bayi yang kecil dengan tubuh yang membiru.

"Ya, tuhan bu, anak bayi". Ayah mengambil anak itu dari keranjang dengan hati-hati. Terasa dingin sekali kulitnya. Agaknya dia sudah semalaman disini. Ayah berlari ke rumah, begitupun ibu. Dengan sigap ayah yang menemukanku membuka bajunya. Memeluk tubuh kecilku. Ibu sigap berlari ke dapur. Mengambil beberapa bilah kayu kemudian menyalakannya di bawah tungku. Ibu merebus air. "Bu, cepatlah anak ini sepertinya sangat kedunginan, tubuhnya dingin seperti es". Ibu tak menjawab, iya fokus akan api yang sedang di buatnya.

Jumat, 09 Januari 2015

Ya

Mereka yang memiliki kebaikan selalu mengalah untuk orang lain, mengenyampingkan dirinya sendiri. Tahu kah bahwa jika dia bersuara, suaranya akan lebih keras dari auman singa. Dia pilih menahan. Dan sekuat-kuatnya hati menahan nanti akan penuh juga. Sekeras-kerasnya batu di alam toh di hancurkan oleh tetesan air.

Berpikir terus

Berpikir sebelum bertindak. Berpikir lagi setelah di putuskan. Berpikir lagi dan lagi ketika di kerjakan. Berpikir lagi akibatnya. Berpikir terus.

Tidak

Bukan ketidakmampuan akan sesuatu yang membuat hati bersedih, tidak. Tapi ketidak jujuran yang membuatnya terasa sangat menyakitkan. Menyakitkan karna tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus berada dimana. Karna memihak juga malah akan membuat tambah-tambah menyakitkan.

Kamis, 08 Januari 2015

Pertanda

Sering kali ada pertanda yang membuat kita bepikir apakah yang sedang kita kerjakan sekarang akan memberikan hasil sesuai dengan keinginan atau jika di teruskan akan menghasilkan sesuatu yang berlainan.

OK

bukan jarak yang memisahkan tapi kemauan

Minggu, 04 Januari 2015

Pesanku

Kau seperti itu selalu sibuk dengan duniamu. Terlalu sibuk, nak. Entah apa yang kau cari tapi selalu saja memperhatikan diri sendiri. Egois. Paling tidak hatimu tidak seperti batu dan masih bisa mendengarkan apa yang di katakan orang lain. Baik itu yang tajam maupun tidak. Itu positifmu setidaknya saat ini. Ingat duniamu akan senantiasa berubah tidak pun kau kehendaki. Perubahan bisa membawamu kemana saja.
Pesanku, ingat selalu kemana tujuanmu, ingat untuk siapa kau berusaha, ingat bagaimana perjuangannya. Kau hidup untuk siapa? buktikan, nak. Suasana hatiku sedang baik hari ini makanya aku bisa mengingatkanmu seperti ini. Mungkin suatu saat nanti kau akan membacanya kembali.
Kau layaknya sebuah rumah yang tidak di huni puluhan tahun. Ku tahu kau berbenah, sibuk. Tapi ingatlah, orang yang ada di sekitarmu saat ini tidak akan mungkin berada di sampingmu selamanya. Jaga mereka bahagia. 

Yes

untuk semua harapan dan cita-cita tiada yang dapat mewujudkannya selain ikhtiar dan do'a

PIKIR

memang ini menjadi semakin tak ku mengerti
kau lewat begitu saja
entah bagaimana bisa kau seolah lewat lagi
pagi, siang, sore, malam bahkan ketika sendirian malah semakin terasa

ku tak mengerti
bukan, memang ku tidak mau mengerti
aku dengan duniaku dan kau dengan duniamu
harus seperti itu

jangkauan yang lebih daripada sebatas legan
di coba untuk mengisi masa depan
ambisi, sebuah harapan
dan kita tau kita memiliki batasan

Pilihan

Kita belajar dengan cara yang berbeda-beda meskipun kita di buat berdasarkan kerangka yang sama, di arahkan ke arah yang sama. Pada akhirnya kita memilih jalan kita sendiri dan menjalani arti sebuah pilihan.

BUMI MANUSIA

Nelangsa--
Perasaan sebatang kara di tengah sesamanya yang sudah menjadi lain daripadanya, dimana panas matari di tanggung semua orang, tapi panas hati ditaggung sendiri.

Things

Keindahan muncul dengan cara yang tidak terduga-duga. Dia bisa muncul dari mahluk ciptan-Nya bisa juga dari rasa yang di berikan-Nya. Tak pasti memang, pun tiada yang abadi. Keindahan menjadi pengobat lara. Membiaskan luka, menentramkan jiwa. 

Jumat, 02 Januari 2015

Niat

rasa
entah hendak ku bawakan kemana
sepertinya sekarang sudah mati
mungkin mati rasa

sejuk  hangatnya hilang tertinggal waktu
panas dinginnya hanya memori
yah, biar saja begitu bersatu mejadi sebuah kisah
pembelajaran di masa lalu

caci saja aku karna janjiku
teriak saja biar menggema
beritahu semua coreng muka ini
tak akan aku sesali

tidak mudah, aku tak mau mengulangi lagi
aku akan perbaiki
ku tahu tak ada yang bisa mengobati maka biarlah ku perbaiki
ku tak mau nanti mati sendiri

coba lihat sekarang
hari sudah semakin siang tak mungkin aku lewati
nanti sore keburu menjelang
aku tak mau meratapi sang malam

Kamis, 01 Januari 2015

Biarlah

Biarlah. Biarlah hari ini terluka. Kadang kita pun tidak bisa memaksakan sesuatu berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Biarlah, biarlah luka membekas sehingga kita tidak pernah lupa tempat dimana kita memulai.