Mereka memanggilku juni lenggang. Seorang anak yang terlahir tanpa mengetahui asal usul keluarganya. Aku tak tahu mengapa di namakan juni pada awalnya. Sampai akhirnya orang tua angkatku menceritakannya kepadaku. Aku di besarkan oleh seorang ibu dan ayah yang terpandang pada saat itu. Ibu bernama Sumi dan ayah bernama Joko. Mereka tidak beranak. Mereka menemukanku menangis membiru di antara pagar hidup di depan rumahnya. Waktu itu malam, pukul setengah 2 dini hari. Ibu tersintak oleh suara tangisan seorang bayi. Hatinya menciut dengan pendengarannya, ibu takut, karna waktu itu di tahun 1899 di kampung kami sedang berkembang isu anak dedemit yang meminta darah.
Ibu membangunkan ayah yang pada saat itu sedang pulas-pulasnya, sampai-sampai bantalnya yang sudah basah dengan liur pun tak terasa, tetap nyaman. "Ayah, bangunlah aku takut" ibu masih dalam posisi tertidur. Tak ada tanggapan melainkan suara dengkuran ayah yang semakin keras. "Ayah, ayah" , "hmm.... khkkk..." tetap tak berbalas. Ibu membalikkan badannya dan kini menggoncang tubuh suaminya itu. "Ayah.. bangunlah aku sangat takut, ayah, ayah, cepat". Ketika itu mata ayah setengah terbuka. "Ada apa bu? Apa kau bermimpi buruk lagi? Sudah kembalilah tidur dan panjatkan doamu" , "bukan yah, tolonglah buka matamu sebentar, apa kau tidak mendengarnya" ibu tetap menggoncangkan tubuh ayah sesekali menepuk pipinya. Ayah membuka matanya, merah, kusut, karna memang td ia tertidur sangat pulas. Mereka berpandangan "Apa yg salah denganmu bu, ku rasa kau bekerja terlalu keras hingga belakangan ini kau sering mengigau" "lekaslah tidur dan berdoa" tambahnya. "Bukan itu, aku seperti mendengar seorang bayi menangis di luar sana", "ah perasaanmu saja" , "tidak, dengarlah aku tidak mengigau".
Ayah mengangkat kepalanya dengan berat. Dia bersandar di kepala dipan, selintas tertidur dan kemudian dia terkejut. "Ya Tuhan! Anak siapa yg menangis itu" matanya melotot dan mencari arah suara. "Bu, bangunlah, ayo kita lihat sepertinya dari arah pekarangan" , "jangan yah aku takut, tidakkah kau mendengar isu bayi setan itu?" , "Omong kosong,, jangan kau dengarkan berita dukun-dukun itu, mereka sengaja membuatnya supaya kita resah dan meminta pertolongannya" , "mereka menghendaki kita meminta ajimat" , "tapi yah" , "sudahlah, jangan biarkan takut menguasaimu, kita harus lihat ke arah suara itu". Ayah bergegas bangkit dan mengintip ke pekarangan dari jendela di kamarnya. Ibu masih berbaring, bahkan menutupi kepalanya dengan selimut.
Suara tangis itu pun makin menjadi, kini di tambah dengan lolongan anjing. Ayah menoleh kesana kemari dari balik jendela tapi tak menemukan apa-apa. "Kita harus tengok keluar bu" ayah berpendapat. "Tak mungkin bagaimana kalau isu itu benar? Kita akan menjadi tumbal" sahut ibu dari balik selimut. "Baiklah, kalau kau berkeras hati begitu aku saja yg melihat keluar" , " berhati-hatilah kau jika tahu-tahu setan itu masuk ke kamar kita sementara aku diluar". Secepat kilat ibu berlari mengejar ayah yang sudah membuka pintu. "Tunggu!!! " , *braak*. Karna saking takutnya ibu menabrak pintu yang di buka ayak. Pintu itupun terbanting tertutup kembali. "Ah, kepalaku yah", "kenapa berlari begitu, lihat kepalamu sampai berdarah begini" , "aw, sakit yah.. Aku tak mau sendirian disini " mata ibu kini berkaca, antara ketakutan dan menahan sakit di kepalanya yang menabrak pintu. "Sudahlah, ini hanya sedikit tergores. Akan sembuh dalam beberapa hari. Mari kita keluar"
Ibu dan ayah dengan perlahan mendekati pintu masuk rumahnya. Suara tangisan bayi itu keras sekali, melengking seperti sedang terjepit. Selintas kemudian anjing di luar suaranya pun sangat keras, bersahut-sahutan. Ayah pada saat itu gelisah dan sangat gundah. Sebenarnya terbersit juga isu di kampung itu di benaknya. Diapun ngeri juga. Tapi perasaan kebapakannya mengalahkan itu semua. Perlahan dia putar selot kunci dan membuka pintu rumahnya. Suara bayi tadi kini tersamarkan dengan suara anjing yang terdengar kelaparan. Gonggongannya sahut menyahut. Terdengar juga suara berisik dari pagar hidup di depan pekarangan. Ayah menoleh dan mendapati segerombolan anjing tengah merusak pagar hidupnya itu. Sepertinya sangat kelaparan. "Kurang ajar anjing-anjing hutan ini. Merusak tanamanku". Ibu yg berpegangan pada bahu ayah kemudian ikut menoleh. Ayah melepaskan genggaman ibu dan mengisyaratkan untuk berdiri di balik pintu. Ibu mengangguk. Kemudian ayah mengambil 2 buah batu seketika itu juga melemparkannya ke arah gerombolan anjing tadi. "Kena!" Sahutnya. Gerombolan itu kabur ke arah hutan dengan suara meringis. Ayah melihat pagarnya patah tak beraturan dari jauh. Ia kesal. Dengan hanya mengenakan pakaian tidur ia menghampiri pagarnya itu.
Ibu menguntit di belakangnya waspada. Setengah jalan kemudian dia berlari dan kembali menghinggapi lengan ayah. Mereka berdua berjalan perlahan ke arah pagar. Suara bayi tadi sudah tidak terdengar. Ayah kemudian kembali mengambil batu untuk berjaga-jaga akan degala kemungkinan. "Bu, suaranya hilang". Mereka berputar ke arah depan pagar. "Apa itu yah?!" Ibu terkejut mendapati ada keranjang yang sebagian koyak seraya menunjuk ke arahnya. "Jadi kayu ini yg di perbutkan anjing-anjing tadi" geramnya. "Hati-hati yah barangkali ada ular di baliknya yg bersenbunyi dari anjing anjing tadi" , "tenanglah bu, aku akan memeriksanya". Keranjang itu berbalut kain sebelumnya, kini sama koyaknya dengan keranjang yang di tutupinya. Sepertinya anjing itu benar-benar kelaparan, kayu pun di kunyahnya. Keranjang itu ternyata adalah keranjang buah, cuma ini lebih besar, kiranya cukup untuk 5 kg buah apel. Ayah meraih sobekan kain tadi dan perlahan menariknya dari jauh. Tak bisa, kain itu tak berapa lama langsung tersangkut. Pasutri ini bergerak mendekati keranjang dan alangkah terkejutnya mereka mendapati seorang bayi yang kecil dengan tubuh yang membiru.
"Ya, tuhan bu, anak bayi". Ayah mengambil anak itu dari keranjang dengan hati-hati. Terasa dingin sekali kulitnya. Agaknya dia sudah semalaman disini. Ayah berlari ke rumah, begitupun ibu. Dengan sigap ayah yang menemukanku membuka bajunya. Memeluk tubuh kecilku. Ibu sigap berlari ke dapur. Mengambil beberapa bilah kayu kemudian menyalakannya di bawah tungku. Ibu merebus air. "Bu, cepatlah anak ini sepertinya sangat kedunginan, tubuhnya dingin seperti es". Ibu tak menjawab, iya fokus akan api yang sedang di buatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar