Sabtu, 21 Maret 2015

Tut Wuri Handayani

Saya tidak berpikir untuk mendapatkan apa yang Tuan peroleh di hari sukses Tuan. Karna yang saya pahami tentang persahabatan adalah Tut Wuri Handayani terlepas dari penilaian Tuan terhadap saya.

Sastra

Ku sastrakan diri

Antipati

Entah sampai kapan akan ku tanyakan pada diriku. Dia takkan pernah menjawab ketika ku sedang berantipati.

Di butakan ambisi

Memang tak habis pikirku melihatnya. Sampai saat ini kita masih di jerat ketidakterimaan atas perbedaan. Coba kau lihat, itu, mereka semua saudaramu. Kalian memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing tapi kalian pilih untuk saling menyaingi daripada saling mengisi. Bahkan untuk apa yang di kebulkan di dapur hari ini. Kalian, di butakan ambisi.

Emosi saya

Pandainya saya meluapkan emosi adalah dari setiap ketukan ini. Tidak, saya tidak tunjukan kepada kalian pun saya tak kan menyerang kalian. Saya ingin tapi saya anggap kalian keluarga.

Minggu, 15 Maret 2015

Kita

Berjalan bukankah akan letih juga?
Berlari pun juga akan menguras tenaga
Bergerak bukankah akan pegal juga?

Lalu mengapa kita melakukan semuanya?

Karna itu yang bisa mendekatkan kita

Sabtu, 14 Maret 2015

Hujan

Rintiknya menghapuskan jejak yang tertinggal. Melapisi malam, kadang menyejukkan dan bisa lebih mendinginkan.

Jumat, 13 Maret 2015

Kisah

Aku hanya menuliskan bahagia
Supaya kau juga bisa baca aku bahagia
Aku tidak berada dalam bukumu
Makanya kau tersenyum membacanya

Aku berkata menyuarakan bahagia
Supaya kau juga bisa dengar aku bahagia
Aku tidak berada dalam pendengaranmu
Makanya kau tersenyum mendengarnya

Aku semerbak bunga bahagia
Supaya kau tenang berada di antaranya
Aku tidak berada dalam tamanmu
Makanya kau tersenyum di dalamnya

Aku menggemulaikan tangan melambai bahagia
Supaya kau juga bisa lihat aku bahagia
Aku tidak berada dalam pandanganmu
Makanya kau tersenyum melihatnya

Aku tidak bisa selain mendoa kau bahagia

Aku hidup dalam buku ku yang fana
Akan habis menguning hingga tak ada lagi yang mau membacanya

Aku hidup dalam duniaku yang fana
Akan habis termakan usia hingga aku kembali kepada-Nya

Entahlah

Kau tuliskan namamu dengan tinta-tinta becek, kau goreskan sampai terbaca sampai tak bisa ku hapuskan kecuali kubakar kertasmu itu

Fana

Jikapun bukan karna cinta, hujan takkan pernah turun menyegarkan tanah. Tanah takkan subur untuk manusia.
Manusia habis Dunia binasa

Selasa, 10 Maret 2015

Persetan

Ah, persetan. Engkau pun telah di kuasai emosi. Ingat apa yg aku bilang? Kau bodoh. Tak berpendirian. Sedikit pun kau tak mengerti posisimu. Sumbu amarahmu terlalu pendek, begitu kau alamatkan pada yg lainnya.
Persetan

This

Seseorang mengundurkan dirinya bukan karna dia menyerah terhadapmu. Lebih banyak mereka merasa lelah menunggu respon yang di harapkan tetapi ternyata tak kunjung datang.

Lirih

Kau posisi kan dirimu dalam sebuah nyanyian. Ke tempat dimana sedu dan sedan itu kau padankan. Kau biasa. Lirih suaramu tidak tergantikan begitupun nampaknya dengan isi hatimu tapi kau semakin terlupakan.

Rabu, 04 Maret 2015

I closed my love book

Kadang kita memilih untuk mempertahankan cinta yang kita rasakan dan menghiraukan cinta yg orang lain akan berikan, untuk kita. Hanya kita.