Diamku sejenak
Rintik hujan ini seolah berbicara
Ya, ia membawaku pada satu masa
membimbing angan untuk kembali ke tempat persinggahan
Sunyi
Ku pejamkan mata
Jiwaku tak terlepas raga pun melakukan hal yang sama
Nada, nada jatuhnya yang kurasakan
Begitu mendalam membuaiku dalam ketenangan
Hujan datang dengan ragam ceritanya
Dia badai, dia rintik, dia deras
Rintik yang ku suka
Entah mengapa tapi ku nikmati berjalan di bawahnya
Badai kadang mengkhawatirkanku
Deras selalu meluluhkan
Tapi semua telah berjalan pada jalurnya
Pada realita yang telah di gariskan atasnya
Hujan telah memiliki porsi sendiri yang akan membuatnya selalu terkenang
Kamis, 11 Juni 2015
Dia
Rabu, 10 Juni 2015
Kita
Jiwa ini akan terselimuti emosi
Entah mengapa aku tak kuasa membendungnya
Kita memang tak pernah searah
Tapi bukannya karna berlawanan lalu kita bersua
Sejalan maka kita seiring
Berlawanan maka kita berhadapan
Jika mata telah bertemu mata
Maka mungkin hati juga akan bertemu hati.
Dan tercipta,
Kita
Selasa, 09 Juni 2015
Semangat
Seorang terpelajar tidak akan pernah jatuh hanya dengan beberapa rintangan. Jikapun tersandung, pahamilah. Terlalu lama mendongak membuat kita lupa bahwa dengan sesekali menekur perjalanan akan lebih aman.
Jumat, 05 Juni 2015
Waktu
Waktu akan memberikan kejutan. Tidaak hanya pada mereka yang bergegas tetapi juga pada yang berleha-leha. Kejutan tidak selamanya menyenangkan tapi ia bisa di prediksi.
Kamis, 04 Juni 2015
Aku dan Laut
Sejauh apapun kau pergi ke tengah laut, suatu saat ombak akan membawamu menepi. Tidak pun kau hendaki, gelombang itu akan selalu ada. Hembusan angin yang menciptakannya, begitupun gelombang seismik.
Lautan tak pernah kejam dia selalu tenang. Jika kemudian kau lihat ombak yang besar, itu adalah campur tangan angin. Bukankah kau pun menghendakinya? Mencarinya? Banyak darimu memanfaatkannya untuk kesenangan, berselancar seolah menaklukkan yang terbesar.
Hari lusa telah aku terima surat darimu. Helai kertas yang kau masukkan ke dalam sebuah botol. Ku baca surat itu, sudah ku balas. Melalui laut ku lemparkan dan berharap gelombang menepikannya padamu. Entah di pantai yang mana.
Sering ku coba untuk langsung menemuimu melintasi lautan biru. Sesering itu juga badai menghalangiku. Frekuensi ombak makin liar karnanya. Aku menunggu, hingga ia kembali reda.
Masih dalam benak ini. Jika aku tidak bisa menjadi pulaumu, biarkanlah aku menjadi laut yang akan senantiasa tenang sambil menepi perlahan bersama dengan gelombang ombak.