Kamis, 19 Februari 2015

Buitenzorgku

Tak berapa lama api menyala dengan rata. Ibu tetap pada posisinya menghembus angin melalui sebilah bambu. Sebenarnya sudah merata tp ibu enggan beranjak, ia menambahkan sebilah kayu lagi dan kali ini api membesar. Beberapa menit berselang air mulai bergeladak. Ibu menuangkan sebagian kedalam baskom sementara sisanya tetap di rebus. "Bagaimana keadaannya,yah?" , "aku tak mengerti, anak ini terlalu dingin" sahut ayah. Ibu menghampiri kami seraya membawa handuk kecil yang biasanya di pakai ayah berkebun. "Kemarikan" kali ini ibu terlihat sangat tenang, berbanding terbalik dengan ayah yang dilanda kepanikan. Ibu mendekapku, tangannya lincah meskipun sebelah. Kiri menggendongku dan kanan memeras serta melap seluruh tubuhku. Mungkin ini yang mereka katakan insting keibuan. Memang betul ibu sumi tak beranak tapi ketenangannya mematahkan itu semua. "Bu, mungkin dia perlu susu" kata ayah "pastinya, tp tubuhnya masih membiru. Mungkin dia masih kedinginan. Biar aku hangatkan dahulu"

                                  ****
Pagi itu kampung riuh ramai memenuhi pekarangan ayahku, Joko. Mereka beramai-ramai berkumpul hanya untuk melihatku. Aku mulai membaik, badanku merah tak lagi biru. Ayah tampak lebih tenang pagi ini, ia bercakap-cakap dengan  kawan-kawannya yg bertanya kejadian semalam. Aku tetap di dekapan ibu, kiranya sudah semalaman ibu tidak tidur dan hanya memelukku,mentransfer kehangatan tubuhnya. "Ayah, kemarilah sebentar" ibu memanggil ayah dari kerumunannya. "Ya, ada apa bu? Apa kau ingin ku buatkan teh hangat lagi?" , "tidak, apa tak ada yg kau lupakan sejak kejadian semalam?" Tanya ibu, sejenak ayah berpikir "aku sudah memberitahukan berita ini kepada kepala desa, sudah ku ajak bapak-bapak berkumpul untuk berjaga-jaga, tak lama lagi para ibu pun akan datang kesini. Rasanya tak ada yang aku lewatkan" , ibu hanya tersenyum. "Mengapa?" Ayah kebingungan. "Apakah ada yang aku lewatkan? Bekerja? Ah biar saja, toh aku hanya meliburkan diri satu hari" , "bukan itu maksudku, yah". "Anak ini, anak yang sedang ku timang ini, dia sangat cantik, lihatlah, tapi sayang kau melupakan sesuatu" mata ibu berpindah menghadapku. "Anak ini belum memiliki nama" lanjut ibu. Ayah tersenyum kecut, tidak biasanya sumi seperti ini. Dia bahkan seperti ibu yang mengandung anak ini selama sembilan bulan. Nama, benar, sebuah tak terpikirkan sama sekali di kepalanya. "Benar sayang, aku melupakan hal penting itu, aku terlalu sibuk bercerita sampai melupakan hal-hal yang kecil" , "tapi sayang, tidakkah kau mau menunggu kedatangan pak dalsim kepala desa kita? Dia lebih pantas menengahi karna, jangan kau berkecil hati, kita hanya menyelamatkan anak ini.. "maksudmu aku tak boleh membesarkannya?" Ibu menatap tajam kepada ayah "tidak,tidak, tidak begitu, anak ini haruslah kita ketahui asal usulnya. Boleh jadi dia di culik. Kau jangan berkecil hati dulu". Ibu tak menjawab, kepalanya menekur tangannya membelai wajahku, seketika air matanya menetes karna mengetahui aku tidak di lahirkan dari rahimnya. Ayah menyadari itu kemudian kami bertiga saling berpelukan.

Pertemuan dengan warga hari itu berkeputusan bahwa ayah berhak mengasuhku. Orang tuaku belum lagi di ketahui. Tidak dari desa ini. Pak Dalsim berasumsi bahwa aku sengaja di buang oleh warga dari desa lain. "Tuan Joko, sudi kiranya kau asuh anak ini. Kasihan dia. Hampir mati di santap anjing hutan. Orang tuanya biadap karna membuangnya" , "kau ku izinkan merawatnya,membesarkannya, bahkan sampai menikahkannya selayaknya kau adalah ayah kandungnya. Aku tidak berkeberatan, bagaimana saudara-saudara? Tanya Pak Dalsim pada warganya. Mereka semua sependapat. Ayah dan ibu berhak mengasuhku dengan sah di desa ini. Sekali lagi air mata ibu menetes banyak sekali. "Kita rawat anak ini bu" ayah membisikannya kemudian memeluk istrinya tercinta itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar