Jumat, 08 Mei 2015

Kau

Mata yang membuatku mengingat dimana kau duduk pertama di hadapanku-mengerling dan kau terasa, ada.

Tatapanmu itu tak pernah setajam pisau dapurku. Ku lihat sisimu tumpul sebagian tapi tak pernah ku hiraukan. Bukankah kita memiliki batu asahan.

Kerlingmu merefleksikan sesuatu yang kau batasi sebagai rahasia. Ku tahu kau akrab dengan air mata, ku tahu anganmu kerap kembali ke satu masa. Matamu men-dikte-ku itu.

Aku tak pernah berusaha mengisi ruang kosongmu. Kenapa harus ketika kau pun tak pernah melihat kesana. Tidak ada yang pernah bisa menggantikan sebuah kehilangan.

Aku, bukan pengganti tapi ku biarkan diriku menjadi buku baru, kosong, yang siap kau tulis dengan semua ceritamu. Sehingga kau hidup dalam, Aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar