Rabu, 30 Desember 2015

Arloji Rusak

Di penghujung hari akankah tetap sama, semua cerita yang tiada pernah kita ungkapkan, dimana kau dan aku sama-sama membisu, membiarkan diri mematung sampai lumut subur menyelimuti bagian tubuh ini.

Mengapa semua terasa sama di kala aku mulai untuk menaruh rasa semua tiada berbeda, engkau yang disana entah akan bagaimana ku tak pernah tau tapi kita pernah ada, kau dan aku berdua bersembunyi dalam memori yang berbeda tetapi memiliki rasa yang sama, sebuah alunan melodi dengan ritme yang senada.

Aku tak tahu mengapa begini jadinya, ku coba mengatakannya pada angin supaya masuk celah jendela kamarmu, ia selalu kembali, kembali dengan ketiadaan, ku katakan dalam selembar kertas, ku hanyutkan dalam aliran sungai, tapi kau berada di hulu, suratku tak pernah sampai karena berakhir di muara, ku titipkan salam pada burung gereja ku mau ia hinggapi kediamanmu sekedar berkicau mesra, lebih mesra dari kicauanku dalam kesepian.

Merpati membawa rasa yang sama sampai akhir hayatnya, gajah mati kehilangan pasangannya, buaya, sebuah kata untuk para pengembara yang sesungguhnya hanya menetap di satu jiwa, selamanya, aku, aku tak tahu apa aku bisa, aku tak berharap untuk menjadi mereka, cintaku sama sampai batas waktu yang tak terkira, arloji rusak ini akan menjadi penanda dimana ku matikan waktu untuk sementara, sampai kau ada memberiku tenaga untuk mendetakkannya.

Aku bukan mereka yang pernah datang bertamu ke teras hatimu, ku tak pernah bermaksud menggantikan siapa-siapa, aku adalah aku yang mencintaimu dengan kekonsistenan nada, tiada ku beranjak bahkan ketika tak jelas kau suka nada yang mana, aku tak merubah nadaku, biarlah sumbang katanya, aku tak ragu karena aku, aku menjadi aku supaya kau menjadi kau, aku dan kau menjadi kita, dengan alunan nada yang berbeda tapi seirama.

Kemudian Dia yang menciptakan kita dengan perbedaan, dari situ ku mulai untuk memahami bahwa aku kurang, dan kau hadir sebagai pelengkap yang akan menjadikan kita satu. Tiada ku sampaikan resah ini karena sepi ku rasa, kau tahu aku, biarlah dulu tenggelam, tiada nelangsa karna ku rasa kita memiliki pandangan yang sama akan cinta.

Senin, 14 Desember 2015

Jika

Jika ingin pergi tanpa di suruh pun pasti akan pergi.
Jika ingin bertahan tanpa di minta pun pasti akan bertahan.

Tidak ada yang rumit kecuali permainan perasaan.

Jumat, 21 Agustus 2015

Tanpa tujuan

Ketika ku angankan menjadi jarum
Ku harap ku temui segulung benang
Ku tahu kita kan menyatu
Ku tahu kau kan padu

Dasar kita hanyalah selembar kain
Helaian yang diriku dan dirimu tak pernah menyangsikannya
Hanyalah media yg tidak bersuara
Tapi ia menyatukan kita

Nikmat terasa saat kita menyatu
Senyumku merekah melihatmu berbentuk
Resah terasa ketika ku salah menyusun polamu
Ku tak mau merusak kesempurnaanmu

Perlu sebuah kesabaran untuk menantimu,
Tidak selalu berhasil tapi selalu ada media baru,
Tentu dengan benang yang baru,
pola baru, warna baru,
Selalu ku tenang karena kita masih dalam tujuan yang sama,
Menjadi sebuah karya

Tapi kini ku tak lagi menenun
Jarumku patah
Benangku hilang arah
Entah harus bagaimana tapi ku nikmati ketiadaan pola

Kamis, 11 Juni 2015

Dia

Diamku sejenak
Rintik hujan ini seolah berbicara
Ya, ia membawaku pada satu masa
membimbing angan untuk kembali ke tempat persinggahan
Sunyi
Ku pejamkan mata
Jiwaku tak terlepas raga pun melakukan hal yang sama
Nada, nada jatuhnya yang kurasakan
Begitu mendalam membuaiku dalam ketenangan
Hujan datang dengan ragam ceritanya
Dia badai, dia rintik, dia deras
Rintik yang ku suka
Entah mengapa tapi ku nikmati berjalan di bawahnya
Badai kadang mengkhawatirkanku
Deras selalu meluluhkan
Tapi semua telah berjalan pada jalurnya
Pada realita yang telah di gariskan atasnya
Hujan telah memiliki porsi sendiri yang akan membuatnya selalu terkenang